Ketika gelombang seismik mengenai batas dari dua material yang mempunyai perbedaan impedansi, beberapa energi dalam gelombang akan di pantulkan, sedangkan yang lainya akan diteruskan. Amplitudo dari refleksi gelomabang didapat dari koefisien refleksi R, yang dideterminasi oleh perbedaan impedans antara dua medium.

“Rumusnya gimana nich Om???🙂 ”

Untuk gelombang yang mengenai batas lapisan pada normal impedans, koefisien refleksinya dapat ditulis :

R=\frac{Z_1 - Z_0}{Z_1 + Z_0},

dimana Z0 dan Z1 adalah impedans medium pertama dan medium kedua.

Rumus yang digunakan untuk normal-incidence koefisien transmisi adalah

T=\frac{2 Z_1}{Z_1 + Z_0}.

Dari sini, dapat ditunjukan dengan mudah bahwa :

1+R=\frac{Z_1 + Z_0 + Z_1 - Z_0}{Z_1 + Z_0}=\frac{Z_1  + Z_1}{Z_1 + Z_0} = T.

Dengan melakukan observasi pada kuat reflektor, seismologist dapat mengetahui perubahan pada impedansi seismik. Mereka menggunakan informasi ini untuk mengerahui perubahan properti batuan, seperti densitas dan modulus elastik.

Untuk non-normal incidence (mempunayi sudut), fenomena ini terjadi konversi gelomang, gelomang longitudinal (Gelombang P) terkonversi menjadi gelombang trasnfersal (gelombang S) dan sebaliknya.